![]() |
| Image from Pinterest | Akari |
Bola matamu selalu menjawab
pertanyaan-pertanyaan
yang tumbuh dari keraguanku,
dan untuk beberapa saat
aku lupa pada kebohongan
yang pernah berlalu.
Jujur saja,
selain bola mata itu,
senyummu sejak dulu
membuat dunia terasa cukup untuku:
kopi yang kauteguk bersamaku,
rencana-rencana yang kita tuju,
percakapan gila yang tak pernah selesai diantara aku dan kamu,
dan sore yang selalu enggan berlalu.
Semua masih tersimpan di kepalaku,
barangkali karena aku masih mencintaimu.
Atau barangkali,
aku hanya terlalu ingin percaya
bahwa kali ini
kau akan menjadi seseorang
yang tidak perlu kutinggalkan.
Namun masih ada setetes noda
yang tertinggal dalam keyakinanku.
Seperti tinta hitam
yang tumpah ke dalam sumur itu,
tempat selama ini kuminum air
dari kedua tanganmu.
Sejak saat itu kau timba air baru,
menjernihkannya kembali dengan seribu kebaikanmu.
Tetapi yang aku tahu,
di dasar sana,
masih tinggal titik hitam
yang dulu meracuniku.
Jika memang benar,
kau ingin kembali kepadaku,
barangkali bukan air itu yang menjadi fokusmu,
melainkan dahagaku
untuk kembali meneguknya darimu.
Memang aku masih mencintaimu.
Namun aku tidak ingin cinta itu,
menjadi alasan untuk membutakan diriku,
hingga yang tersisa dari kita hanyalah debu.
Aku ingin mencinta
tanpa menutup mata,
tanpa ada lagi rasa takut yang menerpa,
pada apa yang pernah jatuh ke dalam sumur kita.

No comments:
Post a Comment