Saturday, 3 October 2026

Setetes yang Tertinggal

Bola matamu selalu menjawab 
pertanyaan-pertanyaan 
yang tumbuh dari keraguanku,
dan untuk beberapa saat 
aku lupa pada kebohongan
yang pernah berlalu.

Jujur saja, 
selain bola mata itu,
senyummu sejak dulu 
membuat dunia terasa cukup untuku:
kopi yang kauteguk bersamaku,
rencana-rencana yang kita tuju,
percakapan gila yang tak pernah selesai diantara aku dan kamu,
dan sore yang selalu enggan berlalu.

Semua masih tersimpan di kepalaku,
barangkali karena aku masih mencintaimu.
Atau barangkali, 
aku hanya terlalu ingin percaya 
bahwa kali ini 
kau akan menjadi seseorang 
yang tidak perlu kutinggalkan.

Namun masih ada setetes noda
yang tertinggal dalam keyakinanku.
Seperti tinta hitam
yang tumpah ke dalam sumur itu,
tempat selama ini kuminum air 
dari kedua tanganmu.

Sejak saat itu kau timba air baru,
menjernihkannya kembali dengan seribu kebaikanmu.
Tetapi yang aku tahu,
di dasar sana,
masih tinggal titik hitam
yang dulu meracuniku.

Jika memang benar,
kau ingin kembali kepadaku,
barangkali bukan air itu yang menjadi fokusmu,
melainkan dahagaku
untuk kembali meneguknya darimu.

Memang aku masih mencintaimu.
Namun aku tidak ingin cinta itu,
menjadi alasan untuk membutakan diriku,
hingga yang tersisa dari kita hanyalah debu.

Aku ingin mencinta
tanpa menutup mata,
tanpa ada lagi rasa takut yang menerpa,
pada apa yang pernah jatuh ke dalam sumur kita.

No comments:

Post a Comment