| Photo from pinterest |
Ambillah kembali,
Maka hari ini,
| Photo from pinterest |
| The Graveyard's Edge by Rookie |
Di tubuhnya pernah ada jalan yang kamu hafal tikungannya, dan lampu-lampu kotanya sengaja dibiarkan tetap menyala. Jendela-jendela di sisi jalanan juga masih menantikan suaramu, terdengar menyenangkan seperti hujan pertama setelah musim panas yang panjang.
Malam itu, ia menunggumu seperti halte terakhir di ujung malam, yang papan jadwalnya masih menyala, bangkunya masih dingin, dan angin berkali-kali bertanya, apakah ia tujuan utamanya.
Yang bisa ia lakukan hanya menghitung detik, menit, serta waktu yang pelan tapi pasti menjadi runtuhan. Bukan karena ia tidak punya kehidupan lain, tapi karena di kota yang jauh sepertinya, kabar adalah kendaraan terakhir yang ia tunggu malam itu. Ketika kendaraan itu tak datang, ia seperti ditinggalkan di tempat asing yang bahkan tidak kamu cari.
Kamupun datang ketika malam sudah menutup pintunya, membawa suara kecil seolah waktu masih ada dan rindu bisa diselipkan begitu saja, di sela-sela tawamu, sholat-mu, dan sisa lelahmu.
Hanya hujan yang menjawab kehadiranmu malam itu. Turun deras dari mata langit yang sejak tadi ia tahan di dada ke pelupuk dasar kota. Rintik dan badainya meluapkan semua yang tak pernah kau baca, setelah menjadi halaman terakhir yang baru tersentuh setelah lama kau tunda.
Kalau nanti kamu kembali dan melihat kota ini mati, jangan pernah salahkan hujan, jangan salahkan malam. Jangan juga salahkan peta yang menghadirkanmu kesana. Pahamilah, ada kota yang mati bukan karena tidak pernah dicintai, tapi karena terlalu lama dibiarkan hidup sendiri.
![]() |
| Photo from care24 |
“Aku mau nikah aja.”
Mungkin bagi sebagian dari kita, kalimat itu pernah terbesit, apalagi ketika hidup terasa terlalu berat untuk ditopang sendiri. Sebab pernikahan tampak seperti jeda paling indah: tempat pulang, tempat berbagi, tempat lelah dibagi dua. Tapi benarkah ia akan menjadi ruang yang paling khidmat, atau justru hanya sekadar pelarian yang berisiko tamat?
Kebetulan, hari-hariku sebagai mahasiswa magister kini dipenuhi oleh revisi, tuntutan profesor, proyek, dan paper. Ritme yang nyaris tak berujung ini cukup membuatku pusing tujuh keliling. Di titik tertentu, menikah terasa seperti shortcut yang paling indah. Terlebih lagi, mudah tereksekusi jika sudah ada pasangannya.
Hasrat itu aneh, semacam kadang datang dan pergi, seperti bisa muncul saat manis-manis pernikahan dipertontonkan, atau ketika hidup terasa terlalu masam untuk ditelan sendiri.
Aku bertanya-tanya, seperti apa rasanya bangun pagi dan orang yang kau cintai berbaring juga di sisimu? Apakah semanis yang dibayangkan, atau hanya indah di dalam khayalan?
Kupastikan satu hal yang terjawab saat ini, bahkan membayangkannya saja membuatku sadar bahwa masih banyak yang perlu disiapkan untuk diriku. Bukan soal seremoni, melainkan manejemen ekspektasi dan ketahanan mental.
Hidup berdampingan dengan seseorang yang tumbuh dari kebiasaan, nilai, dan cara pandang yang berbeda tentu merupakan tantangan tersendiri, setidaknya itulah benang merah dari semua review pernikahan yang kudengar. Tapi, di situlah seni berpasangan, kan? Setelah akad diucapkan, yang mengikat bukan lagi sekadar cinta atau kata-kata semanis madu, melainkan visi yang menyatu.
Menjadi istri dengan sebuah visi, itulah yang perlahan sedang kukaji untuk diriku sendiri. Agar komitmen tidak hanya bertahan di awal, tetapi juga dirawat hingga mati...untuk diri, pasangan, dan keluarga kecil yang kelak dibangun bersama.
Aku pelan-pelan belajar membedakan antara ingin ditemani dan siap membersamai. Dua hal yang kelihatannya mirip, tapi ternyata berbeda. Ada hari-hari di mana aku ingin pulang lebih cepat, ingin dimengerti tanpa harus banyak menjelaskan. Tapi ada juga hari-hari di mana aku sadar, bahwa menjadi pasangan hidup berarti siap hadir bahkan ketika diri sendiri sedang tidak utuh-utuhnya. Dan dari situ aku mulai paham, sebelum berharap ada yang berjalan bersamaku, aku perlu tahu dulu ke mana aku ingin melangkah.
Aku ingin datang sebagai pribadi yang utuh. Masih belajar memang, tapi dalam prosesnya juga sadar akan arah dan nilai yang ingin dijaga. Karena kupikir, pernikahan yang sehat bukan tentang saling menyelamatkan, melainkan saling menemani untuk bertumbuh.
Maka, pertanyaannya kembali padaku:
apakah aku masih berhenti di kalimat pembuka,
atau sudah siap menulis bab berikutnya?
![]() |
| Photo by helasoull |
![]() |
| Photo by Something of Freedom |
![]() |
| Photo created by Kireyonok_Yuliya |
Ruwet. Satu kata yang bisa menggambarkan isi kepalaku sebulan kemarin. Mungkin bagi kamu-kamu yang sedang atau pernah melewati semester delapan perkuliahan ini akan banyak yang sepakat dengan yang kuhadapi, tapi mungkin juga hanya diriku saja yang banyak berharap agar tidak menderita sendirian... hahahah. Momentum ini adalah waktu dimana hanya ada skripsi untuk dihadapi dan isi kepala selalu berotasi tentang apa-apa yang sudah kita lakukan sejauh ini. Setelah 'pensiun' dari amanah organisasi dan berbagai pekerjaan sampingan lainnya, akhirnya tibalah hari ini. Satu hari bagi seorang Syifa Hana yang memberanikan diri untuk menulis dan membagikan apa yang menjadi refleksi dirinya selama setahun kemarin.
Dua ribu dua puluh satu adalah tahun dimana aku banyak bertemu kawan-kawan baru, pengalaman yang seru-seru, dan kenangan yang lucu-lucu....walaupun ada juga yang pilu. Tapi namanya juga hidup yang gak melulu senang, gak melulu sedih. Semua ada porsinya sendiri yang berkucukupan. Cukup sedihnya, cukup senangnya. Berpasangan dan sejalan. Adil dan berimbang. Hukum alam yang cuma jadi rahasia Tuhan. Banyak kesempatan yang enggak kuduga akan kutemui sebelumnya, banyak juga masalah yang datang entah darimana asalnya. Semua bercampur menjadi rangkaian cerita yang indah untuk dikenang tetapi tidak untuk diulang. Pada tahun itu, aku lebih banyak belajar memanajemen emosi dan mengelola hati.
Perlahan tapi pasti, aku mulai menyadari bahwa mengendalikan situasi sama tidak mungkinnya dengan mengendalikan cuaca. Hanya Tuhan kan yang punya kehendak kapan hujan akan datang? dan kita sebagai manusia hanya bisa mempersiapkan jas hujan atau payung. Siapa yang bisa menyangka akan datang hujan di musim kemarau? tidak ada yang bisa mencegahnya. Dari banyaknya permasalahan iklim di dunia yang kita tinggali seperti sekarang ini, semua itu bisa saja terjadi. Itulah gunanya kalimat "Sedia payung sebelum hujan" kurasa. Sebab, yang bisa kita lakukan dari takdir hari ini, besok atau nanti adalah persiapan. Entah persiapan mental, fisik, atau barang-barang apa saja yang perlu dibawa semisal hari ini datang hujan.
Begitu pula dengan hati manusia, sama seperti hujan kadang-kadang hati kita juga suka memberi kejutan tanpa permisi. Yaa, kalo pakai permisi namanya bukan kejutan tapi pamitan sih. Kejutan-kejutan itu menjelma pembelajaran, terutama belajar untuk mempersiapkan hati yang lapang untuk segala hal yang datang. Ketika kamu tidak berkuasa untuk memerintah hati manusia lain akan jatuh ke hati yang mana, pun juga kita tidak bisa meminta paksa manusia lain untuk jatuh ke hati yang sama. Namanya juga hati, bisa jatuh kapan saja, dengan siapa saja. Ndak perlu marah kalau apa yang akhirnya terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Wajar, masih manusia berarti. Lagi dan lagi, perlu sekali mempersiapkan hati yang presisi untuk segala kondisi. Sebab, situasi memang tidak bisa kita kendalikan, tapi bersyukurlah kita, Tuhan menciptakan manusia yang lengkap dengan hati dan akal pikiran. Hati dan akal pikiran selalu menjadi alasan manusia untuk memilih. Meski kondisi tidak bisa dikendalikan, kita masih punya pilihan.
Ngomong-ngomong soal pilihan, ini juga salah satu hal yang cukup tricky bagiku di tahun kemarin. Walau sebenarnya kecewa, marah, pergi dari situasi, atau hal-hal semacamnya bisa saja dilakukan. Namun, dari sekian banyak pemikiran yang terbayang, akhirnya aku memilih untuk bertahan agar semua rencana yang sudah ditetapkan setidaknya masih dapat dilakukan. Walau terseok-seok, walau hati sebenarnya sedang amburadul – kata yang tepat mewakili hati ketika menjumpai hujan dikala kemarau. Hingga akhirnya tak terasa tibalah juga hari ini, beberapa bulan setelahnya saat diri dan hati siap berefleksi dari segala kejutan di tahun lalu. Aku tidak menyesali pilihan dan sikapku, melainkan bangga pernah berada di masa itu dan segala penyikapannya. Aku yakin masa-masa pendewasaan seperti ini terjadi pada setiap orang, tipe-tipe hujannya saja yang berbeda-beda. Seperti nasihat dari kebanyakan orang tua, memang benar bahwa menjadi dewasa tidaklah mudah. Maka apapun yang terjadi dan kapanpun hujan datang di kemaraumu, pesan dariku hanya satu: bersiap-siaplah.