Saturday, 3 October 2026

Mencintai Bajingan Jogja

Kukira betul adanya bahwa jatuh cinta dapat membawamu pada cahaya paling terang di dunia. Sinarnya sedahsyat itu sampai membutakan matamu yang tak sanggup melihatnya. Membayangkannya saja sudah membuat terbang ke awan-awan hingga lupa bahwa duniaku masih di Jogja. 

Jogja.. Jogja.., katanya sih istimewa. 

Istimewa darimananya? Apa karena disitu ada kamu? Ah, basi!!! 

Toh, kalau memang kamu istimewa, paling karena kemampuanmu merawat luka, yang kuakui paling hebat. Lukanya pas, presisi, dan tepat.

Padahal, untuk orang yang pernah tinggal di Jogja, pasti sepakat bahwa Jogja itu kecil. Warganya ya itu-itu saja. Tapi kecil-kecil begitu, tetap saja aku gak pernah ketemu kamu, apalagi kalau kamu lagi sembunyi.

Memang sih, kuakui skill-mu yang itu juga keinginanku. Bisa menutup hati, menutup mata, menutup telinga, menutup mulut. Hilang deh semua masalah! Solusi untuk sobat overthinking sepertiku.

Kalau memang betul istimewa, mungkin salah satu alasannya adalah karena hanya Jogja yang punya satu pemuda dan membuatku jatuh cinta walau tahu aku bisa saja membencinya. Istimewa bukan? 

Sudah diberi hati, masih juga harus berhati-hati.

Dasar bajingan.


- ditulis di Jogja pada tanggal 22 Januari 2023.

Setetes yang Tertinggal

Bola matamu selalu menjawab 
pertanyaan-pertanyaan 
yang tumbuh dari keraguanku,
dan untuk beberapa saat 
aku lupa pada kebohongan
yang pernah berlalu.

Jujur saja, 
selain bola mata itu,
senyummu sejak dulu 
membuat dunia terasa cukup untuku:
kopi yang kauteguk bersamaku,
rencana-rencana yang kita tuju,
percakapan gila yang tak pernah selesai diantara aku dan kamu,
dan sore yang selalu enggan berlalu.

Semua masih tersimpan di kepalaku,
barangkali karena aku masih mencintaimu.
Atau barangkali, 
aku hanya terlalu ingin percaya 
bahwa kali ini 
kau akan menjadi seseorang 
yang tidak perlu kutinggalkan.

Namun masih ada setetes noda
yang tertinggal dalam keyakinanku.
Seperti tinta hitam
yang tumpah ke dalam sumur itu,
tempat selama ini kuminum air 
dari kedua tanganmu.

Sejak saat itu kau timba air baru,
menjernihkannya kembali dengan seribu kebaikanmu.
Tetapi yang aku tahu,
di dasar sana,
masih tinggal titik hitam
yang dulu meracuniku.

Jika memang benar,
kau ingin kembali kepadaku,
barangkali bukan air itu yang menjadi fokusmu,
melainkan dahagaku
untuk kembali meneguknya darimu.

Memang aku masih mencintaimu.
Namun aku tidak ingin cinta itu,
menjadi alasan untuk membutakan diriku,
hingga yang tersisa dari kita hanyalah debu.

Aku ingin mencinta
tanpa menutup mata,
tanpa ada lagi rasa takut yang menerpa,
pada apa yang pernah jatuh ke dalam sumur kita.

Thursday, 4 June 2026

Jangan Sebut Cinta Dari Makam Ini

Photo from pinterest

Sudah cukup aku mendengar  
semua kata-kata manis yang kau titipkan di dadaku. 
Seolah aku adalah rumah
bagi petualang yang bahkan tak pernah berniat pulang.
 
Ambillah kembali,
rencana-rencana kecil itu. 
Hari-hari yang kau sebut nanti, 
tempat-tempat yang katanya akan kita datangi, 
Aku tidak ingin menyimpannya lagi. 
Terlalu sakit menjaga api yang hanya kuhormati sendirian. 
Terlalu berat membawa masa depan jika hanya diyakini satu orang.
 
Maka hari ini,
kukubur saja semua yang hampir jadi kita. 
Kukubur semua memori
bersama pesan-pesanmu yang dulu kulihat seperti cahaya. 
Dan jangan pernah sebut cinta dari makam ini. 
Sebab mencintaimu dulu sudah kupulangkan, 
ke tempat paling sunyi di dalam diriku. 
Sebab aku sudah terlalu jauh 
untuk kembali menjadi perempuan 
yang kau hidupkan 
hanya saat kau takut sendirian.

Wednesday, 3 June 2026

Curahan Hati Kota Mati

The Graveyard's Edge by Rookie


Di tubuhnya pernah ada jalan yang kamu hafal tikungannya, dan lampu-lampu kotanya sengaja dibiarkan tetap menyala. Jendela-jendela di sisi jalanan juga masih menantikan suaramu, terdengar menyenangkan seperti hujan pertama setelah musim panas yang panjang. 

Malam itu, ia menunggumu seperti halte terakhir di ujung malam, yang papan jadwalnya masih menyala, bangkunya masih dingin, dan angin berkali-kali bertanya, apakah ia tujuan utamanya. 

Yang bisa ia lakukan hanya menghitung detik, menit, serta waktu yang pelan tapi pasti menjadi runtuhan. Bukan karena ia tidak punya kehidupan lain, tapi karena di kota yang jauh sepertinya, kabar adalah kendaraan terakhir yang ia tunggu malam itu. Ketika kendaraan itu tak datang, ia seperti ditinggalkan di tempat asing yang bahkan tidak kamu cari.

Kamupun datang ketika malam sudah menutup pintunya, membawa suara kecil seolah waktu masih ada dan rindu bisa diselipkan begitu saja, di sela-sela tawamu, sholat-mu, dan sisa lelahmu. 

Hanya hujan yang menjawab kehadiranmu malam itu. Turun deras dari mata langit yang sejak tadi ia tahan di dada ke pelupuk dasar kota. Rintik dan badainya meluapkan semua yang tak pernah kau baca, setelah menjadi halaman terakhir yang baru tersentuh setelah lama kau tunda.

Kalau nanti kamu kembali dan melihat kota ini mati, jangan pernah salahkan hujan, jangan salahkan malam. Jangan juga salahkan peta yang menghadirkanmu kesana. Pahamilah, ada kota yang mati bukan karena tidak pernah dicintai, tapi karena terlalu lama dibiarkan hidup sendiri.


Sunday, 28 December 2025

Menjadi Istri dengan Visi


Photo from care24

 “Aku mau nikah aja.”

Mungkin bagi sebagian dari kita, kalimat itu pernah terbesit, apalagi ketika hidup terasa terlalu berat untuk ditopang sendiri. Sebab pernikahan tampak seperti jeda paling indah: tempat pulang, tempat berbagi, tempat lelah dibagi dua. Tapi benarkah ia akan menjadi ruang yang paling khidmat, atau justru hanya sekadar pelarian yang berisiko tamat?

Kebetulan, hari-hariku sebagai mahasiswa magister kini dipenuhi oleh revisi, tuntutan profesor, proyek, dan paper. Ritme yang nyaris tak berujung ini cukup membuatku pusing tujuh keliling. Di titik tertentu, menikah terasa seperti shortcut yang paling indah. Terlebih lagi, mudah tereksekusi jika sudah ada pasangannya. 

Hasrat itu aneh, semacam kadang datang dan pergi, seperti bisa muncul saat manis-manis pernikahan dipertontonkan, atau ketika hidup terasa terlalu masam untuk ditelan sendiri.

Aku bertanya-tanya, seperti apa rasanya bangun pagi dan orang yang kau cintai berbaring juga di sisimu? Apakah semanis yang dibayangkan, atau hanya indah di dalam khayalan? 

Kupastikan satu hal yang terjawab saat ini, bahkan membayangkannya saja membuatku sadar bahwa masih banyak yang perlu disiapkan untuk diriku. Bukan soal seremoni, melainkan manejemen ekspektasi dan ketahanan mental.

Hidup berdampingan dengan seseorang yang tumbuh dari kebiasaan, nilai, dan cara pandang yang berbeda tentu merupakan tantangan tersendiri, setidaknya itulah benang merah dari semua review pernikahan yang kudengar. Tapi, di situlah seni berpasangan, kan? Setelah akad diucapkan, yang mengikat bukan lagi sekadar cinta atau kata-kata semanis madu, melainkan visi yang menyatu.

Menjadi istri dengan sebuah visi, itulah yang perlahan sedang kukaji untuk diriku sendiri. Agar komitmen tidak hanya bertahan di awal, tetapi juga dirawat hingga mati...untuk diri, pasangan, dan keluarga kecil yang kelak dibangun bersama.

Aku pelan-pelan belajar membedakan antara ingin ditemani dan siap membersamai. Dua hal yang kelihatannya mirip, tapi ternyata berbeda. Ada hari-hari di mana aku ingin pulang lebih cepat, ingin dimengerti tanpa harus banyak menjelaskan. Tapi ada juga hari-hari di mana aku sadar, bahwa menjadi pasangan hidup berarti siap hadir bahkan ketika diri sendiri sedang tidak utuh-utuhnya. Dan dari situ aku mulai paham, sebelum berharap ada yang berjalan bersamaku, aku perlu tahu dulu ke mana aku ingin melangkah.

Aku ingin datang sebagai pribadi yang utuh. Masih belajar memang, tapi dalam prosesnya juga sadar akan arah dan nilai yang ingin dijaga. Karena kupikir, pernikahan yang sehat bukan tentang saling menyelamatkan, melainkan saling menemani untuk bertumbuh.

Maka, pertanyaannya kembali padaku:

apakah aku masih berhenti di kalimat pembuka,

atau sudah siap menulis bab berikutnya?

Monday, 11 August 2025

Janji Dibawa Mati

Photo by helasoull


Jika aku tiada, jangan bawakan bunga
Bawalah cincin yang menjadi bukti janji manismu
Biar membusuk dan berkarat bersama tulang-tulangku

Lukislah penyesalanmu tepat dibalik batu nisanku
dan biarkan huruf-hurufnya retak berserakan
seperti percayaku yang roboh kau biarkan

Ingatlah baik-baik setiap kali kau menjengukku,
Kau sedang mengiris aku,
yang telah terkubur bersama rindu.