Wednesday, 3 June 2026

Curahan Hati Kota Mati

The Graveyard's Edge by Rookie


Di tubuhnya pernah ada jalan yang kamu hafal tikungannya, dan lampu-lampu kotanya sengaja dibiarkan tetap menyala. Jendela-jendela di sisi jalanan juga masih menantikan suaramu, terdengar menyenangkan seperti hujan pertama setelah musim panas yang panjang. 

Malam itu, ia menunggumu seperti halte terakhir di ujung malam, yang papan jadwalnya masih menyala, bangkunya masih dingin, dan angin berkali-kali bertanya, apakah ia tujuan utamanya. Kamupun datang ketika malam sudah menutup pintunya, membawa suara kecil seolah waktu masih ada dan rindu bisa diselipkan begitu saja, di sela-sela tawamu, sholat-mu, dan sisa lelahmu. 

Hanya hujan yang menjawab kehadiranmu malam itu. Ia turun deras dari mata langit yang sejak tadi ia tahan di dada ke pelupuk buku-buku tua di sudut kota. Rintik dan badainya meluapkan semua yang tak pernah kau sentuh, setelah menjadi halaman terakhir yang baru terbaca setelah lama kau tunda.

Yang bisa ia lakukan hanya menghitung detik, menit, serta waktu yang pelan tapi pasti menjadi runtuhan. Bukan karena ia tidak punya kehidupan lain, tapi karena di kota yang jauh sepertinya, kabar adalah kendaraan terakhir yang ia tunggu malam itu. Ketika kendaraan itu tak datang, ia seperti ditinggalkan di tempat asing yang bahkan tidak kamu cari.

Kalau nanti kamu kembali dan melihat kota ini sepi, jangan pernah salahkan hujan, jangan salahkan malam. Jangan juga salahkan peta yang menghadirkanmu kesana. Pahamilah, ada kota yang mati bukan karena tidak pernah dicintai, tapi karena terlalu lama dibiarkan hidup sendiri.


No comments:

Post a Comment