![]() |
| Photo from care24 |
“Aku mau nikah aja.”
Mungkin bagi sebagian dari kita, kalimat itu pernah terbesit, apalagi ketika hidup terasa terlalu berat untuk ditopang sendiri. Sebab pernikahan tampak seperti jeda paling indah: tempat pulang, tempat berbagi, tempat lelah dibagi dua. Tapi benarkah ia akan menjadi ruang yang paling khidmat, atau justru hanya sekadar pelarian yang berisiko tamat?
Kebetulan, hari-hariku sebagai mahasiswa magister kini dipenuhi oleh revisi, tuntutan profesor, proyek, dan paper. Ritme yang nyaris tak berujung ini cukup membuatku pusing tujuh keliling. Di titik tertentu, menikah terasa seperti shortcut yang paling indah. Terlebih lagi, mudah tereksekusi jika sudah ada pasangannya.
Hasrat itu aneh, semacam kadang datang dan pergi, seperti bisa muncul saat manis-manis pernikahan dipertontonkan, atau ketika hidup terasa terlalu masam untuk ditelan sendiri.
Aku bertanya-tanya, seperti apa rasanya bangun pagi dan orang yang kau cintai berbaring juga di sisimu? Apakah semanis yang dibayangkan, atau hanya indah di dalam khayalan?
Kupastikan satu hal yang terjawab saat ini, bahkan membayangkannya saja membuatku sadar bahwa masih banyak yang perlu disiapkan untuk diriku. Bukan soal seremoni, melainkan manejemen ekspektasi dan ketahanan mental.
Hidup berdampingan dengan seseorang yang tumbuh dari kebiasaan, nilai, dan cara pandang yang berbeda tentu merupakan tantangan tersendiri, setidaknya itulah benang merah dari semua review pernikahan yang kudengar. Tapi, di situlah seni berpasangan, kan? Setelah akad diucapkan, yang mengikat bukan lagi sekadar cinta atau kata-kata semanis madu, melainkan visi yang menyatu.
Menjadi istri dengan sebuah visi, itulah yang perlahan sedang kukaji untuk diriku sendiri. Agar komitmen tidak hanya bertahan di awal, tetapi juga dirawat hingga mati...untuk diri, pasangan, dan keluarga kecil yang kelak dibangun bersama.
Aku pelan-pelan belajar membedakan antara ingin ditemani dan siap membersamai. Dua hal yang kelihatannya mirip, tapi ternyata berbeda. Ada hari-hari di mana aku ingin pulang lebih cepat, ingin dimengerti tanpa harus banyak menjelaskan. Tapi ada juga hari-hari di mana aku sadar, bahwa menjadi pasangan hidup berarti siap hadir bahkan ketika diri sendiri sedang tidak utuh-utuhnya. Dan dari situ aku mulai paham, sebelum berharap ada yang berjalan bersamaku, aku perlu tahu dulu ke mana aku ingin melangkah.
Aku ingin datang sebagai pribadi yang utuh. Masih belajar memang, tapi dalam prosesnya juga sadar akan arah dan nilai yang ingin dijaga. Karena kupikir, pernikahan yang sehat bukan tentang saling menyelamatkan, melainkan saling menemani untuk bertumbuh.
Maka, pertanyaannya kembali padaku:
apakah aku masih berhenti di kalimat pembuka,
atau sudah siap menulis bab berikutnya?




